Loading

Berita

Informasi terkini seputar kegiatan sekolah di bidang akademik, bakat minat, serta informasi perkembangan sekolah lainnya.


UJIAN CBT SMP AL IRSYAD BANYUWANGI

UJIAN CBT SMP AL IRSYAD BANYUWANGI

: m_s m_n

02 May, 2020

Terkait dengan kegiatan belajar dirumah karena kondisi Pandemi maka ujian PAT kali ini kita laksanakan dengan sistem CBT. untuk mengikuti ujian CBT pastikan telah mendapat username dan password dari wali kelas atau panitia ujian. Jika sudah mendapatkan username dan password maka  klik disini untuk mengakses halaman ujian CBT (Compter Basic Test). 
Jika menemukan kesulitan saat mengakses halaman ujian CBT segera hubungi Operator sekolah dan sampaikan kendalamu.

Semoga Sukses Selamat menempuh Ujian

Profile Sekolah

Sejarah Beridirinya Al Irsyad

01 Mar, 2018

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal itu mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-’Alamah Syeikh Ahmad Surkati Al-Anshori, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair -yang mayoritas anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan sayyid, dan berdiri pada 1905. Nama lengkapnya adalah SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD ASSOORKATY AL-ANSHARY.

Al-Irsyad adalah organisasi Islam nasional. Syarat keanggotaannya, seperti tercantum dalam Anggaran Dasar Al-Irsyad adalah: “Warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam yang sudah dewasa.” Jadi tidak benar anggapan bahwa Al-Irsyad merupakan organisasi warga keturunan Arab.

Perhimpunan Al-Irsyad mempunyai sifat khusus, yaitu Perhimpunan yang berakidah Islamiyyah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, di bidang pendidikan, pengajaran, serta social dan dakwah bertingkat nasional. (AD, ps. 1 ayat 2).

Perhimpunan ini adalah perhimpunan mandiri yang sama sekali tidak mempunyai kaitan dengan organisasi politik apapun juga, serta tidak mengurusi masalah-masalah politik praktis (AD, ps. 1 ayat 3).

Syekh Ahmad Surkati tiba di Indonesia bersama dua kawannya: Syeikh Muhammad Tayyib al-Maghribi dan Syeikh Muhammad bin Abdulhamid al-Sudani. Di negeri barunya ini, Syeikh Ahmad menyebarkan ide-ide baru dalam lingkungan masyarakat Islam Indonesia. Syeikh Ahmad Surkati diangkat sebagai Penilik sekolah-sekolah yang dibuka Jami’at Khair di Jakarta dan Bogor.

***

Berkat kepemimpinan dan bimbingan Syekh Ahmad Surkati, dalam waktu satu tahun, sekolah-sekolah itu maju pesat. Namun Syekh Ahmad Surkati hanya bertahan tiga tahun di Jami’at Khair karena perbedaan paham yang cukup prinsipil dengan para penguasa Jami’at Khair, yang umumnya keturunan Arab sayyid (alawiyin).

Sekalipun Jami’at Khair tergolong organisasi yang memiliki cara dan fasilitas moderen, namun pandangan keagamaannya, khususnya yang menyangkut persamaan derajat, belum terserap baik. Ini nampak setelah para pemuka Jami’at Khair dengan kerasnya menentang fatwa Syekh Ahmad tentang kafaah (persamaan derajat).

Karena tak disukai lagi, Syekh Ahmad memutuskan mundur dari Jami’at Khair, pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan di hari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya: Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berganti nama menjadiJam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Islamiyyah).

Setelah tiga tahun berdiri, Perhimpunan Al-Irsyad mulai membuka sekolah dan cabang-cabang organisasi di banyak kota di Pulau Jawa. Setiap cabang ditandai dengan berdirinya sekolah (madrasah). Cabang pertama di Tegal (Jawa Tengah) pada 1917, dimana madrasahnya dipimpin oleh murid Syekh Ahmad Surkati angkatan pertama, yaitu Abdullah bin Salim al-Attas. Kemudian diikuti dengan cabang-cabang Pekalongan, Cirebon, Bumiayu, Surabaya, dan kota-kota lainnya.

Al-Irsyad di masa-masa awal kelahirannya dikenal sebagai kelompok pembaharu Islam di Nusantara, bersama Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai “Trio Pembaharu Islam Indonesia.” Mereka bertiga juga berkawan akrab. Malah menurut A. Hassan, sebetulnya dirinya dan Ahmad Dahlan adalah murid Syekh Ahmad Surkati, meski tak terikat jadwal pelajaran resmi. (sumber website alirsyad pusat: http://www.alirsyad.or.id)

Pendiri Al Irsyad Al Islamiyyah

08 Feb, 2018

SYEIKH AHMAD SURKATI adalah tokoh utama berdirinya Jam’iyat al-Islah wa Al-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berubah menjadi Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah), atau disingkat dengan nama Al-Irsyad. Banyak ahli sejarah mengakui perannya yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia, namun sayang namanya tak banyak disebut dalam wacana sejarah pergulatan pemikiran Islam di Indonesia.
Sejarawan Deliar Noer menyatakan Ahmad Surkati “memainkan peran penting” ebagai mufti. Sedang sejarawan Belanda G.F. Pijper menyebut dia “seorang pembaharu Islam di Indonesia.” Pijper juga menyebut Al-Irsyad sebagai gerakan pembaharuan yang punya kesamaan dengan gerakan reformasi di Mesir, sebagaimana dilakukan Muhammad Abduh dan Rashid Ridha lewat Jam’iyat al-Islah wal Irsyad(Perhimpunan bagi Reformasi dan Pimpinan).
Sejarawan Abubakar Aceh menyebut Syeikh Ahmad Surkati sebagai pelopor gerakan salaf di Jawa.
Peneliti Howard M. Federspiel menyebut Syekh Ahmad Surkati sebagai “penasehat awal pemikiran Islam fundamental di Indonesia”. Dan menurutnya, pendiri Persatuan Islam (Persis), Haji Zamzam dan Muhammad Yunus, adalah sahabat karib Syekh Ahmad Surkati.

Pengakuan terhadap ketokohan Syekh Ahmad Surkati juga datang dari tokoh Persis lainnya, Ahmad Hasan. Menurut A. Hasan, dirinya bersama pendiri Muhammadiyah H. Ahmad Dahlan dan pendiri Persis Haji Zamzam juga murid-murid Ahmad Surkati.
“Mereka itu tidak menerima pelajaran dengan teratur, namun Al-Ustadz Ahmad Surkati inilah yang membuka pikiran kami sehingga berani membuang prinsip-prinsip yang lama, dan menjadi pemimpin-pemimpin organisasi yang bergerak berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah,” kata A. Hasan.
Pujian terhadap Ahmad Surkati  juga datang dari ayah Hamka, H. Abdul Karim Amrullah. Kisahnya, di tahun 1944 Hamka bertanya kepada ayahnya tentang seseorang yang dipandang sebagai ulama besar di Jawa. Ayahnya menjawab, “Hanya Syekh Ahmad Surkati.” Hamka bertanya kembali, “Tentang apanya?” Sang ayah lalu menerangkan, “Dialah yang teguh pendirian. Walaupun kedua belah matanya telah buta, beliau masih tetap mempertahankan agama dan menyatakannya dengan terus terang, terutama terhadap pemerintah Jepang. Ilmunya amat dalam, fahamnya amat luas dan hatinya sangat tawadhu!”
Dalam bukunya yang berjudul “Ayahku: Riwayat Hidup Dr. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera”, Hamka juga menulis hubungan khusus antara ayahnya dengan Syekh Ahmad Surkati. “Setelah pindah ke tanah Jawa, sangatlah rapat hubungannya dengan almarhum Syekh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad yang masyhur itu. Pertemuan beliau yang pertama dengan Syekh itu di Pekalongan pada 1925. Ketika itu Syekh masih sehat dan matanya belum rusak…”
Syekh Ahmad Surkati lahir di Desa Udfu, Jazirah Arqu, Dongula (Sudan), pada tahun 1292 H atau 1875 M. Ayahnya bernama Muhammad dan diyakini masih punya hubungan keturunan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, sahabat Rasulullah saw. dari golongan Anshar.
Syekh Ahmad Surkati lahir dari keluarga terpelajar dalam ilmu agama Islam. Ayahnya, Muhammad Surkati, adalah lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir. Syekh Ahamd dikenal cerdas sedari kecil. Dalam usia muda, ia sudah hafal Al-Qur’an.
Setamat pendidikan dasar di Mesjid Al-Qaulid, Ahmad Surkati dikirim oleh ayahnya belajar di Ma’had Sharqi Nawi, sebuah pesantren besar di Sudan waktu itu. Ia kembali lulus memuaskan, dan ayahnya ingin ia bisa melanjutkan ke Universitas Al-Azhar di Mesir. Namun pemerintahan Al-Mahdi yang berkuasa di Sudan waktu itu melarang warganya meninggalkan Sudan. Putus keinginan Ahmad muda untuk mengikuti jejak ayahnya, menjadi sarjana Al-Azhar.
Namun suatu waktu, Ahmad Surkati bisa juga lolos dari Sudan dan berangkat ke Madinah dan Mekkah, untuk belajar agama. Tepatnya, setelah ayah beliau wafat pada 1896 M. Di Mekkah, ia sempat memperoleh gelar Al-Allaamah yang prestisius waktu itu, dari Majelis Ulama Mekkah, pada 1326 H. Syekh Ahmad lantas mendirikan sekolah sendiri di Mekkah, dan mengajar tetap di Masjidil Haram.
Meski berada di Mekkah, ia rutin berhubungan dengan ulama-ulama Al-Azhar lewat surat menyurat. Hingga suatu waktu datang utusan dari Jami’at Kheir (Indonesia) untuk mencari guru, ulama Al-Azhar langsung menunjuk ke Syekh Ahmad. Dan beliaupun pergi ke Indonesia bersama dua kawan karibnya: Syekh Muhammad Abdulhamid al-Sudani dan Syekh Muhammad Thayyib al-Maghribi.
Di negeri barunya ini Syekh Ahmad menyebarkan ide-ide baru dalam lingkungan masyarakat Islam Indonesia. Syekh Ahmad Surkati diangkat sebagai Penilik sekolah-sekolah yang dibuka Jami’at Kheir di Jakarta dan Bogor.
Berkat kepemimpinan dan bimbingannya, dalam waktu satu tahun sekolah-sekolah tersebut maju pesat. Namun Syekh Ahmad Surkati hanya bertahan tiga tahun di Jami’at Kheir, karena perbedaan faham yang cukup prinsipil dengan para penguasa Jami’at Kheir, yang umumnya keturunan Arabsayyid (alawiyin).
Sekalipun Jami’at Kheir tergolong organisasi yang memiliki cara dan fasilitas modern, namun pandangan keagamaannya, khususnya yang menyangkut persamaan derajat, belum terserap baik. Ini nampak setelah para pemuka Jami’at Kheir dengan kerasnya menentang fatwa Syekh Ahmad Surkati tentang kafaah (persamaan derajat).
Karena tak disukai lagi, Syekh Ahmad memutuskan mundur dari Jami’at Kheir pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan dihari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya dari golongan non-alawi mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya, yaitu Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berganti nama Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad Al-Islamiyyah).
Karya Tulis Syekh Ahmad Surkati:
Selain mengajar di sekolah formal, Syekh Ahmad Surkati juga meninggalkan beberapa karya tulis di Indonesia. Di antaranya yang cukup penting adalah:
1. Surat al-Jawab (1915):
Risalah ini merupakan jawaban Ahmad Surkati terhadap permintaan pemimpin surat kabar Suluh India, H.O.S. Tjokroaminoto, sehubungan dengan makin luasnya pembicaraan tentang kafa’ah.
2. Risalah Tawjih al-Qur’an ila Adab al-Qur’an (1917):
Karyanya ini lebih menajamkan isi yang terkandung dalam Surat al-Jawab. Intinya antara lain: kedekatan seseorang pada Muhammad sebagai Rasulullah bukan didasarkan atas keturunan, namun atas dasar ketekunan dan kesungguhan dalam mengikuti jejak dan dakwahnya.
 3. Al-Dhakhirah al-Islamiyah  (1923):
Ini majalah bulanan yang dikelola Syekh Ahmad Surkati bersama saudaranya, Muhammad Nur al-Anshari. Melalui majalah ini Syekh Ahmad Surkati membongkar praktek-praktek beragama yang keliru, menulis tentang Islam yang cocok untuk segala bangsa dan di segala waktu, dan persatuan ummat.
4.   Al-Masa’il al-Thalats (1925):
Yang berisi pandangan Syekh Ahmad tentang ijtihad dan taqlid, sunnah dan bid’ah serta tentang ziarah kubur dan tawassul.
5.  Al-Wasiyyat al-Amiriyyah  (1918)
6.  Zedeleer Uit Den Qor’an  (1932)
7.  Al-Khawatir al-Hisan  (1941)
Beberapa buku diatas sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.
G.F. Pijper menulis:  “Sebagai seorang Muslim yang baik, dia menjauhkan diri dari para pejabat pemerintah. Tentu saja dia bukanlah tipe seorang sahabat pemerintah Kolonial.” Pijper adalah penasehat pemerintah Hindia Belanda menjelang dan sampai masuknya Jepang ke Indonesia. Menurut pengakuannya, ia kenal baik dengan Syekh Ahmad, bahkan ia sempat tiga tahun belajar ilmu tafsir dan ilmu fiqih pada Syekh Ahmad.
Banyak pemuka Islam yang selain merupakan sahabat erat Syekh Ahmad, juga sempat menimba ilmu darinya. Antara lain A. Hasan, salah satu tokoh Persatuan Islam (Persis). Juga KH. Mas Mansyur dan H. Fachruddin (pemuka Muhammadiyah), KH. Abdul Halim, pemuka Persyarikatan ‘Ulama yang kemudian menjadi PUI (Persatuan Umat Islam).
A. Hassa-lah yang memperkenalkan Syekh Ahmad Surkati pada Bung Karno, ketika Bung Karno berada dalam pembuangan di Ende, lewat brosur-brosur dan buku-buku yang ditulis Syekh Ahmad. Presiden pertama RI ini ketika bebas dari Ende sering bertandang ke rumah Syekh Ahmad.
Syekh Ahmad juga menjadi “guru spritual” Jong Islamieten Bond (JIB), dimana para aktifisnya seperti Muhammad Natsir (mantan perdana Menteri), Kasman Sigodimedjo dkk. sering belajar pada beliau.
Ahmad Surkati tutup usia pada hari Kamis, 6 September 1943, jam 10.00 pagi, di kediaman beliau, di Jalan Gang Solan (sekarang Jl. KH. Hasyim Asy’ari no. 25) Jakarta, tepat 29 tahun setelah beliau mendirikan Al-Irsyad. Jenazahnya diantar ke Pekuburan Karet dengan cara sederhana dan tidak ada tanda apa-apa di atas tanah kuburannya. Ini sesuai amanat beliau sendiri sebelum meninggal.
Di antara orang-orang dan para muridnya yang melayat, sebagian besar telah menjadi tokoh masyarakat dan pejuang bangsa. Diantaranya Bung Karno, yang pernah menyatakan:“Almarhum telah ikut mempercepat lahirnya gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia.”
Sumber: Website PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah: www.alirsyad.org

Arti dan Tafsir Lambang Logo Al Irsyad

01 Mar, 2018

1. Bentuk hati
Melambangkan sebuah ikatan jum’iyyah, persatuan kelompok orang yang memiliki cita-cita yang sama serta aqidah yang sama, yakni Islam.
2. Dua sayap disebelah kiri dan kanan
Melambangkan bahwa sebagai perhimpunan Al-Irsyad ditopang oleh kekuatan kaum muslimin maupun kaum muslimat (pria dan wanita).
3. Dua kitab, yang masing-masing dengan huruf  ق = QOF sebelah atas dan dengan huruf   ح = HA  sebelah bawah, dengan punggung kitab disebelah kanan untuk yang atas dan sebelah kiri untuk yang bawah adalah AL-QUR’AN dan AL-HADITS (Sunnah Rasulullah) sebagai dua sumber pokok hukum Islam yang menjadi dasar pegangan Perhimpunan.
4. Perangkai dua kitab dengan huruf  ض  = DHAT
Melambangkan spesifik bahasa Arab yang tidak dimiliki ejaan bahasa laimmya, sebagai bahasa utama untuk menggali Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta sebagai bahasa persatuan umat Islam.
5. Sisir
Melambangkan AL-MUSAWA atau PERSAMAAN derajat antara manusia sebagaimana diajarkan oleh Islam. Sisir meski panjang gigi-giginya berbeda-beda, namun tingginya TETAP sama. Prinsip ini bertolak dari Hadist Nabi Muhammad saw.:
Al muslimuuna sawaasiyyatun ka asnaanil musyut
“Orang-orang Islam itu mempunyai kedudukan yang sama antar sesama seperti ratanya gigi-gigi sisir.”
Sisir ini memaknai kesamaan dan kebersamaan.
6. Tangan yang menggenggam tangkai penopang sisir.
Melambangkan bahwa seluruh Irsyadiyyin dan irsyadiyyat berkewajiban untuk memegang teguh dan menjujung tinggi prinsip -prinsip persamaan tersebut, di manapun mereka berada.
7. Obor
Melambangkan pelita yang memberi penerangan. Bahwa Perhimpunan ini memiliki misi dan tujuan untuk memberi penerangan kepada masyarakat tentang ajaran Islam yang benar sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Struktur Organisasi

12 Mar, 2018

Kepala Sekolah
Mohammad Naif, S.Pd.I

Wakasek Kurikulum
Intan Jatu Fatmawati Yusuf

Wakasek Kesiswaan
Lukman Syahid, S.Pd

Bendahara
Karimah Abdullah, S.Pd dan Sulaiman

Oprator
Mohammad Subandriyo

Koordinator Agama
Muhammad Iqbal, S.Pd.I

sarana dan Prasarana

12 Mar, 2018

Sarana dan Prasana sangat berperan penting untuk menunjang proses pembelajaran.
Alhamdulillah  SMP Al Irsyad Banyuwangi memiliki beberapa sarana penunjang KBM, diantaranya:
1. Dua Gedung berlantai II dengan kelas terpisah antara siswa putra dan siswa putri.
2. Masjid yang representatif dengan kapasitas 600 jama'ah.
3. Lapangan Olahraga (Lapangan Futsal dan Basket)
4. Kantin
5. Laboratorium IPA
6. Laboratorium Komputer
7. Perpustakaan

Visi Misi

08 Feb, 2018

VISI
Meluluskan siswa yang berakhlakul karimah, unggul dalam prestasi, berbangsa dan berwawasan global.

MISI
Mengembangkan sumber daya secara
optimal dalam rangka mempersiapkan siswa
di era global.